Sabtu, 31 Agustus 2013

Munajat Cinta


Malam ini ku sendiri
Tak ada yang menemani
Seperti malam-malam
Yang sudah-sudah

Hati ini selalu sepi
Tak ada yang menghiasi
Seperti cinta ini
Yang selalu pupus

Tuhan kirimkanlah aku
Kekasih yang baik hati
Yang mencintai aku
Apa adanya

Mawar ini semakin layu
Tak ada yang memiliki
Seperti aku ini
Semakin pupus

Tuhan kirimkanlah aku
Kekasih yang baik hati
Yang mencintai aku
Apa adanya

Pupus

Aku tak mengerti apa yang ku rasa
Rindu yang tak pernah begitu hebatnya
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu

Aku persembahkan hidupku untukmu
Telah kurelakan hatiku padamu
Namun kau masih bisu diam seribu bahasa
Dan hati kecilku bicara

Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku....

Semoga waktu akan mengilhami sisi hatimu yang beku
Semoga akan datang keajaiban, hingga akhirnya kau pun mau


Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu


Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku....

Simfoni Hitam

Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan kita bersama
Namun slalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu

Dihatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun slalu aku bertanya
Adakah aku dihatimu ?

Tlah kunyanyikan alunan - alunan senduku
Tlah kubisikkan cerita - cerita gelapku
Tlah kuabaikan mimpi - mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu

Bila saja kau di sisiku
Kan kuberi kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku di mimpimu ?


Tlah kunyanyikan alunan - alunan senduku
Tlah kubisikkan cerita cerita gelapku
Tlah kuabaikan mimpi - mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu

Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar simfoniku simfoni hanya untukmu


Tlah kunyanyikan alunan - alunan senduku
Tlah kubisikkan cerita cerita gelapku
Tlah kuabaikan mimpi - mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu....

Berkunjung di Pedesaan

Ini adalah tugas bahasa indonesia ku :)

BERKUNJUNG DI PEDESAAN

Hari raya Idul Fitri telah tiba tepat pada tanggal 8 Agustus 2013. Seperti tahun - tahun sebelumnya, setelah sholat Ied, aku, ayah, ibu, dan adik akan berkunjung ke rumah sanak saudara untuk bersilaturrahmi dan saling meminta maaf.

Pertama, kami mengunjungi rumah kakek dan nenek. seperti tahun - tahun yang lalu, kami tidak pernah mudik atau pulang kampung, karena dulu ayah dan ibu satu desa. Jadi, kami tidak pernah merasakan mudik . -__-

Setelah dari rumah kakek dan nenek, kami berkunjung ke rumah salah satu saudara kami yang tinggal di desa Jadi. Aku memanggilnya kakek, meskipun bukan kakek kandung. Setelah kurang lebih 20 menit melakukan perjalanan, akhirnya aku sampai di desa kakek.

Untuk menuju ke rumah kakek, kami tidak bisa membawa kendaraan kami masuk. Karena, jalannya sangat sempit. Mayoritas rumah di desa kakek, masih beralaskan tanah dan signal di sana juga sangat sulit.

Beda dengan di desaku, walaupun tidak kota, tapi mayoritas rumah di desaku sudah beralaskan keramik dan signalnya pun juga tidak terlalu sulit.

Setelah sekitar 1 jam lebih kami berbincang - bincang dengan kakek, kami pun melanjutkan pergi ke rumah sanak saudara yang lain...

*bay bay :)

Jumat, 30 Agustus 2013

Pidato Bahasa Jawa

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Dhumateng Bapak lan Ibu Guru ingkang kula hormati, saha kanca - kanca ingkang tansah kula tresnani.
Sepindah, sumangga kita sami angaturaken puji syukur alhamdulillah dhateng Allah SWT, ingkang tansah maringi rahmat, hidayah, sarta inayahipun, saengga kita sedaya saged kempal ing dinten punika kanthi sehat wal'afiat.
Kaping pindo, sholawat sarta salam mugi tansah kita haturaken marang junjungan kita , Nabi Muhammad SAW, ingkang tansah kita tengga - tengga syafa'atipun ing yaumil akhir.

Wonten mriki, kula badhe pidhato kanthi tema Dinten Kamardhikan Indonesia.

Kanca - kanca, saha bapak lan ibu guru ingkang kula hormati. Mboten krasa, negeri kita, Indonesia, yuswanipun sampun sepuh, inggih punika 68 tahun.
Sampun dangu Indonesia punika merdeka. yakuwi kawit tahun 1945 ngantos saiki. sanadyan Indonesia kuwi nyandang status negara ingkang merdeka, nanging kenyataanipun, negeri kita punika kayata lagi dipunjajah. sanadyan kanthi cara mboten langsung.
Buktinipun, kathah tiyang ingkang sampun keicalan rasa jiwa nasionalismenipun.
Tuladhanipun, pemuda - pemudi ing jaman saiki kathah ingkang mboten mangerteni adat sarta kabudhayan daerah saking Indonesia.
Kayata, tari - tarian lan lagu daerah. nanging, yen wis ngomongke budhaya luar negeri, tanpa dipunprintah mesthi wus padha mangerteni. Iku tandhane wus ora peduli marang kabudhayan Indonesia maneh.
Pramila, kanggo ngadhepi masalah kaya mau kuwi, dipunlaksanaake pinten - pinten cara. Kayata, melu mengeti dinten kamardhikan, kaya upacara pitulasan, melu kegiatan lomba - lomba pitulasan, meli nyemaraake karnaval pitulasan, lsp.
Kabeh kuwi mau ana kekarepane. Yakuwi, supaya rasa jiwa nasionalisme lan karakter bangsa tetep tinandur ing jiwa kita nalika taksih alit. Supados, kita saged nerusake jasa para pahlawan ingkang sampun berjuang lan saged mbangun Indonesia supados dumasi nagari ingkang maju lan makmur.
Saha, kita kedah ngelestariake budhaya - budhaya ing Indonesia. Supados,  budhaya asli Indonesia mboten dipunakui dening negara liyo.

Cekap semanten atur saking kula, mbokbilih wonten kalepatan, kula nyuwun agunging pangapunten.
Nuwun.....

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Karena Tak Mungkin

Tlah kusadari....
Percuma mencintaimu
Karena aku tak mampu menjadi
Seperti yang kau harapkan

Cukup bagiku...
Melihat air matamu
Ketika rasa tak lagi berarti
Dan mimpi telah terhenti

Kulepaskan bayanganmu
Menjauh pergi dan tak kembali
Ku relakan cinta kita berlalu
Karena memang tak mungkin.....

Sabtu, 24 Agustus 2013

Hari Kemenangan

Allahu akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar,,,
Laa illahaillallahu Allahu akbar
Allahu akbar Walillahilhamd




Malam yang indah.....
Malam ini adalah malam kemenangan bagi seluruh umat islam, takbir berkumandang di setiap sudut desa, begitu juga di desaku.
Semua orang kembali terlahir dalam jiwa yang fitrah, jiwa yang suci. Semua orang telah berhasil dalam melawan dan memerangi hawa nafsu. dan malam ini, tibalah saatnya bagi kita untuk merayakannya.

Suara petasan terdengar di setiap sudut aku berjalan. Berjalan menyusuri jalan yang penuh dengan gemerlap lampu kemenangan.
Anak - anak kecil berlarian kesana kemari seakan ikut merasakan kemenangan pula, meskipun sebenarnya mereka belum tahu betul apa arti malam ini.

***

Lebaran telah tiba.....
Tibalah bagi kita semua untuk saling bermaaf - maafn, saling berjabat tangan...
Di hari yang fitri ini, semoga kita menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bersih dari hari hari dan bulan bulan kemarin...
Marilah kita tingkatkan amal dan ibadah kita kepada Allah SWT.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H, minal aidzin wal faidzin
Mohon maaf lahir dan batin :)
Ana ketupat kecemplung santen, Yen ana lepat kula nyuwun Pangapunten :)



Selamat hari lebaran
Minal aidzin wal faizin
Mari bersalam - salaman
saling bermaaf-maafan
Ikhlaskanlah dirimu
Sucikanlah hatimu
Sebulan berpuasa
Jalankan perintah agama


Selamat hari lebaran
Minal aidzin wal faizin
Mari mengucap syukur
Kehadirat Illahi
Kita berkumpul semua
Bersama sanak saudara
Tak lupa kawan semua

*7 Agustus 2013

Zakat Fitrah SMP N 1 Rembang





Hari ini, Selasa, 6 Agustus 2013 adalah hari terakhir bagiku untuk menjalankan tugas OSIS. Setelah selama setahun aku menjabat sebagai Ketua OSIS, atau yang lebih ngetrand dengan sebutan Ketos, akhirnya pada hari inilah puncak berakhirnya tugasku. Sebenernya masih ada satu tugas sih, tapi nggak terlalu berat dan begitu memakan banyak waktu. Cuma tinggal reorganisasi OSIS aja.

Pembagian zakat tahun ini agak sedikit berbeda dengan tahun - tahun sebelumnya, untuk tahun ini, beras yang akan dibagikan seragam, maksudnya bukan berasnya yang memakai seragam :D tapi... jenis berasnya disamakan, selain itu bungkusnya juga diberi label SMP N 1 Rembang, biar lebih rapih dan sedap dipandang lah...

Untuk pembagiannya dilaksanakan pada pukul 07.30,, tapi, yang namanya Indonesia, pastilah menggunakan jam karet. jadi, jamnya molor sampai siang...
Untuk pembagian zakat fitrah ini lebih tertib lah, dibandingkan pada saat pembagian daging idul adha tahun 2012 kemarin. Terus,,, sisa berasnya pun juga lebih banyak, dari ratusan kupon yang dibagi, paling hanya 70 % yang diambil..

Emmhh... apalagi yah?? Bingung mau cerita apalagi.. -_______-

Yang pasti, hari ini aku udah melakukan tugas suci deh :) Wish,, diridloi sama Allah dan pahalanya dilipatgandakan.. Amiinnn.. :)

Oh yaaaa.. besok malam udah takbir keliling yah???? selamat hari raya idul Fitri yah?
Minal Aidzin wal Faizin, Mohon maaf lahir dan batin :)

My Life Story ( Part V )

G. Kelas Baru

Sepatu hitamku ini mengantarkanku untuk melangkah menuju ke halaman sekolah itu, dan kemudian membawaku ke ruang kepala sekolah. Yaa.. seperti sekolah lain, setiap siswa yang baru pasti terlebih dahulu bertemu dengan kepala sekolah. Baru setelah itu, akan diperkenalkan dengan kelas yang baru.

Teeeeeettttt............
Bunyi bel menandakan semua siswa harus masuk ke kelas masing - masing.
Mereka berlarian layaknya di kejar oleh macan yang baru lepas dari kandang. Semakin lama semakin habis .. habis.. dan kemudian sepi.
Aku pun segera diantarkan oleh Kepala Sekolah untuk menuju ke kelas baruku. kelas yang akan aku tempati di kelas VIII ini.

Yapp... sampai sudah kakiku ini melangkah. Dan terhenti tepat di depan pintu kelas VIII H.
Sejenak aku terus memandangi papan nama kelas yang tergantung rapi di atas pintu berwarna coklat itu, yaaa Grade VIII H. Kelas VIII H. Nama kelas VIII yang terakhir.
Aku terus berpikir, apakah kelas di sekolah ini sama dengan kelas di sekolahku?
Kalau kelas di sekolahku, kelas terakhir adalah tempat anak - anak yang kurang disiplin, apakah di sini juga? Ahhh.. mungkin karena aku siswa baru, jadi aku ditempatkan di kelas terakhir.

Ku langkahkan kakiku untuk menuju ke dalam ruang kelas baru yang asing bagiku. Ku beranikan untuk menatap wajah - wajah baru, ku tatap mata mereka satu per satu. Dari ujung terdepan sampai paling pojok belakang dekat dengan sapu, dan kemoceng yang tergantung rapi. Dan.. Ya Tuhan.... ada satu wajah yang menurutku sudah tidak asing lagi......
Seseorang yang pertama kali berhasil membuka hatiku, dan dia kali ini tersenyum lebar lagi kepadaku... Yaaa.. benar sekali... Dia adalah Indra.. Pangeran hatiku, betapa bahagianya hatiku hari ini setelah tahu kalau ternyata dia juga sekolah di sini... Oh My God.. Semoga ini menjadi awal yang baik bagiku.. :)

My life Story ( Part IV )


E. Keyakinan Hati

Tidak seperti biasa, aku hari ini bangun lebih awal dari hari - hari biasanya. Udara dingin masih menyelimuti kota Metropolitan. Tubuhku yang biasanya tidak bisa diajak kompromi, khusus hari ini sangat bersemangat untuk mengikuti kemauanku. Ku beranjak dari ranjang tidurku dan segera bergegas ke kamar mandi tanpa melihat jam yang terpatung manis di meja sebelah ranjang tidurku. Ku lawan udara dingin yang seakan memintaku untuk kembali berbaring di bawah selimut tebal yang menggodaku itu, tapi rasanya pagi ini imanku benar - benar kuat. Kuabaikan semua godaan yang menghampiriku.

Ku ambil air wudlu, kubasuhkan ke wajahku, seakan membuat wajahku yang semalaman meredup kini kembali bersinar terang bak cahaya purnama yang menyinari bumi. Ku ambil mukenah dan mulai kulantunkan lafadz lafadz Allah.
Kupanjatkan do'a memohon kepada Tuhan, semoga di hari ini, hari pertama aku menimba ilmu di kota baru, di lingkungan yang baru, Engkau selalu memberikan perlindungan dan keberkahan buatku, aku percaya Engkau selalu di sisiku. :)

***
Kupakai seragam putih biru tua ku sewaktu aku sekolah di Bengangon, ku sandang tas baruku, kupakai si hitam di kakiku, berharap merekalah yang akan menemaniku sehari ini di sekolah.
"Wawa.... wawa.." suara Ibu yang dari tadi memanggilku, memintaku untuk segera menuju ke ruang makan untuk sarapan pagi.
Setelah sekian lama aku bercermin di depan kaca, aku pun segera menuju ke lantai bawah untuk sarapan pagi. Dengan diiringi suara derapan sepatu hitamku yang mengkilat karena baru saja selesai aku semir, aku menuju ke meja makan.
Ayah dan Ibu sudah menungguku di meja makan, sedangkan mbok inem lebih memilih untuk makan di belakang saja, walaupun sudah dipaksa ayah untuk ikut bergabung di meja makan bersama kami.

Sarapan ku pagi ini ditemani oleh sepiring nasi goreng khas Bengangon buatan ibu dan semangkok bubur ayam buatan mbok inem, ditambah segelas susu segar yang dibawa ayah dari Bengangon. Cukup lah untuk menyimpan energi untuk di sekolah nanti....

Setelah semua menu aku lahap, aku pun segera bergegas menuju ke mobil. Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan berangkat sekolah bersama dengan ayah.
Dengan mengucapkan salam kucium tangan Ibu dan mbok inem, seakan turut mendoakanku untuk hari ini.
"Assalamu'alaikum bu, mbok, doakan aku sukses menempuh hari baruku ini. " batinku

lambaian tangan dari Ibu dan mbok inem terus aku pandang sampai mereka terlihat mengecil, mengecil, dan kemudian menghilang begitu saja dalam penglihatanku. Aku masih begitu ragu dengan apa yang akan terjadi hari ini, tapi... hatiku hari ini benar - benar meyakinkanku, bahwa hari ini will be okey :)

***
F. Bidadari Desa Nyasar ke Metropolitan

Cukup membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk menuju ke sekolah baruku. Aku belum sempat bertanya kepada ayahku, di mana  dan apa nama sekolah baruku itu. Memang selama perjalanan, aku lebih memilih banyak diam dari pada harus bertanya - tanya kepada ayah. Aku diam bukan  karena aku pendiam, tapi karena aku sedang memikirkan dan membayangkan bagaimana sekolahku nanti, bagaimana guru - guruku nanti, apakah seperti guru - guru di Bengangon ataukah guru killer seperti di sinetron - sinetron, bagaimanakah teman - teman baruku? apakah mereka seperti sahabat - sahabatku di kampung, ataukah seperti anak - anak yang di film - film yang sukanya ngebully anak baru? Bagaimanakah ruang kelasnya? nyaman atau justru membuat aku seperti cacing kepanasan? Ahhhh... aku tak mau membayangkan itu semua... aku hanya ingin percaya dengan kata hatiku, bahwa aku yakin semua itu akan baik - baik saja sebagaimana mestinya.

Tidak terasa mobilku sudah memasuki gerbang sekolah, dan aku baru tahu kalau ternyata aku sekolah di SMP N Cendrawasih. Namanya aneh banget yah? kayak nama burung. Emmhh burung cendrawasih itu kan indah dan mendapat julukan paradise bird, burung surga, karena keindahan dan kecantikan bulu - bulunya. Mungkin.. sekolah ini sebagus burung cendrawasih. mungkin.......

Kulangkahkan kakiku untuk turun dari mobil, Ya Tuhan... muridnya banyak banget. Dan ternyata sekolah ini gabung dengan SMA. namanya SMA Garuda,,, aku heran deh,, kenapa sekolah di sini semua seperti nama burung, sungguh aneh tapi nyata. -_-

Begitu aku turun dari mobil, banyak anak yang nglihatin aku. Aduh.. apa ada yang salah ya dengan penampilanku? Apa aku kelihatan norak? Oh My God... mungkin mereka berfikir kalau aku itu orang desa yang baru masuk kota Metropolitan yang anaknya gaul - gaul, nggak seperti aku yang kelihatan katrok ini.
Tapi.. kenapa mereka ngliatin aku sambil senyum - senyum ya? apa aku ini lucu kayak badut.. Uhhhh pengin njerit deh...
Atau jangan - jangan mungkin karena aku cantik dan mereka pikir aku ini Bidadari desa yang nyasar ke Metropolitan? Ah... ada - ada saja aku ini, ... sudahlah abaikan.

My Life Story Part III


C. SANG PUTRI JATUH CINTA

Pagi yang indah,, seindah hatiku di pagi hari ini. Kulangkahkan kakiku untuk turun dari ranjang tidurku. Entah kenapa, pagi ini hatiku sangat bersemangat. Ingin rasanya aku mengitari dunia ini, menikmati sejuknya udara disekitar istana baruku. entah apa yang membawa aku untuk keluar dari rumahku, dan entah apa yang ingin aku temui dan yang ingin aku lakukan. Tapi, terbesit suara di dalam hatiku, suara yang mengajakku untuk menemui seseorang. Seseorang? Siapa? Emmhh.. mungkin pangeran yang tadi sore aku temui.

Aku segera bergegas untuk keluar rumah, menyusuri jalan - jalan kecil yang kemarin sore aku lewati. Berharap, aku juga menemui seseorang yang kemarin sore sempat bercanda tawa denganku. siapa lagi kalau bukan Indra. Oh My God.. kenapa aku jadi mikirin Indra terus ya? Masak aku suka sama Indra? padahal belum genap satu hari aku kenal sama dia. bahkan cuma beberapa menit saja aku ngobrol sama dia, tapi perasaanku serasa dipenuhi oleh dia.. Sungguh aku tak mengerti, jujur aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Apa mungkin aku jatuh cinta sama Indra?

Cinta?? bahkan aku baru mengenal kata itu detik ini. Kata yang sampai sekarang baru aku kenal. Aku merenung,,, kuhentikan langkah kakiku tepat di depan bangku dimana aku bertemu Indra kemarin sore. aku duduk dan berfikir tentang apa yang aku rasakan saat ini.

Aku merenung terlalu lama,,, lama sekali.. sampai matahari mulai meninggi. Hari semakin cerah oleh sinar matahari, pertanda bahwa aku harus pulang untuk sarapan pagi. Tapi.. ternyata, seseorang yang ingin aku temui tak juga datang. Mungkin aku nggak akan bertemu dengan dia lagi, dan mungkin juga aku nggak akan pernah mengenal kata cinta lagi.
Ahh sudahlah..

Matahari pagi yang semakin meninggi menemani langkahku untuk kembali ke istana baruku. Suasana pagi ini memang sedikit berbeda dengan suasana kemarin sore. Pagi ini banyak orang yang berlari - larian untuk jalan pagi. Dan aku tidak melihat ada anak - anak seusiaku sama sekali. Entahlah.. mungkin mereka masih tidur, atau mungkin memang tidak ada anak - anak di perumahan ini. seenggaknya masih ada satu anak yang sebaya denganku, dan hari ini anak itu tak ada juga? Oh Tuhan.,,,, malang sekali aku ini, tinggal di istana megah yang sunyi tanpa canda ria suara anak - anak.

***

Ini hari Minggu... jadi ayah tidak pergi ke kantor. Tapi,, serasa ada yang aneh deh,,.. Ya Tuhan.. ini kan hari terakhir liburan, dan besok harus udah masuk ke sekolah baruku. Haduh,, apa sih yang ada difikiranku? sampai sampai aku lupa kalau ini adalah hari terakhir libur sekolah? Baru nyebut kata cinta sekali aja udah bikin aku lupa hari, apalagi kalau udah merasakan? Bisa bisa lupa abjad deh aku.... -_____-

Akupun segera membereskan baju - baju dan seragamku yang masih kececeran dari kemarin. Semua barang - barang telah selesai aku keluarkan dan aku tata dengan rapi di kamar baruku. Dan hari sudah semakin siang, tapi aku belum beli peralatan sekolah sekalipun. Haduuhh,,, bakalan super sibuk deh hari ini.

Tanpa berfikir panjang aku pun segera meminta ayah untuk menemani aku membeli peralatan sekolah, mulai dari tas, sepatu, buku dan lainnya.
"Yah,,, temenin aku ke mall yuk? sekalian jalan - jalan."

"Mau ngapain? kita kan baru aja pindahan masak udah langsung jalan - jalan sih?"

"Aduh ayah.. besok itu aku udah masuk sekolah, dan aku belum punya sepatu, tas, sama buku. Masak besok aku sekolah pake sendal sih?"

"Ooh begitu,, iya deh nanti ayah antar, tapi jangan sekarang ya? soalnya masih panas. Sekarang kamu tidur dulu, nanti malam baru kita jalan - jalan sekalian makan malam di luar ya?"

"Beneran yah? makasih ya yah?"
****
D. ANGGOTA BARU

Setelah sholat maghrib aku pun segera ganti baju dan bergegas untuk menuju ke mobil, siap untuk melihat kota metropolitan di malam hari. Lampu - lampu yang bersinar terang dan suara bising berbagai macam kendaraan menghiasi malam ini.

Sudah hampir 2 jam aku keliling - keliling mall, peralatan yang aku butuhkan pun juga sudah ada di tanganku. ingin rasanya aku segera pulang dan tepar di atas ranjang tidurku yang sudah menantiku.

Ketika perjalanan pulang, dengan tidak sengaja aku melihat ada seorang wanita paruh baya yang dengan tubuh lemas bersimpuh di pinggir jalan, aku dan ayah segera menghampiri wanita itu. tubuhnya sangat lemas, bahkan sudah tidak kuat lagi untuk bicara.
Aku dan ayah segera membawa wanita itu ke dalam mobil dan mengajaknya pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku segera memberi wanita itu makan dan selesai makan, dia mulai menceritakan tentang dirinya.

"Makasih ya nak, sudah bersedia untuk menolong saya."

"Iya sama - sama buk, nama ibu siapa?" tanya ayah.

"Panggil saja saya mbok inem tuan.. rumah saya digusur, jadi saya sudah tidak tahu lagi dimana saya harus tinggal. Sudah tidak ada yang mau merawat saya. Bolehkah saya bekerja di sini? jadi pembantu pun saya mau"

"Mbok inem boleh tinggal di sini, dan anggap saja kami keluarga mbok inem sendiri" hibur ibu.

"Terima kasih buk, pak"

"Oh ya.. kenalin mbok, namaku Azwa, panggil saja aku Wawa. aku seneng mbok inem di sini, jadi ada yang nemenin aku selagi ayah dan ibu bekerja"

"Iya wawa,, "

"Nah, wawa.sekarang kamu anterin mbok inem ke kamar belakang ya? biar istirahat dulu, kasihan masih lemas gitu"

"Baik yah.."

Dan sekarang, aku pun punya anggota keluarga baru. meskipun tidak teman sebaya seperti yang aku inginkan, tapi aku cukup seneng kok dengan hadirnya mbok inem di rumahku, hitung - hitung biar aku nggak kesepian.
Tuhan, terima kasih telah menghadirkan aku seorang teman lagi :) seorang teman bagiku, seorang anggota keluarga baruku, sekaligus menjadi teman penghapus kesepianku. Thanks God :)

My Life Story Part II


B. Rumah Baru

Dengan mengucap basmallah aku melangkahkan kakiku untuk memasuki rumah baruku, berharap aku bisa betah untuk tinggal di sana dan mudah untuk beradaptasi dengan orang - orang yang masih asing bagiku. Ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan ruang - ruang lainnya menurutku tidak ada yang spesial. Semua itu memiliki suasana yang sama dengan rumahku di Bengangon. Yang membedakan adalah kamar tidurku. Ya jelas beda dong dengan yang ada di Bengangon, secara gitu kamarku yang ada di Bengangon telah memiliki sejuta kenangan, terutama dengan sahabat - sahabatku Ana dan Ani. Bicara tentang Ana dan Ani, aku kok jadi kangen mereka ya? kenapa mereka nggak sms aku? masak baru sehari aja aku pergi mereka udah lupa sama aku? ah mungkin mereka sedang sibuk atau nggak punya pulsa kali. Positif thinking aja deh :)
Ku letakkan koper dan tasku di atas ranjang tidurku, segera aku ambil peralatan mandiku. Badanku serasa lengket bak penuh lem yang merekat di seluruh tubuhku.

Selesai mandi, aku segera menata seluruh bajuku. Lelah rasanya jika aku harus menata baju yang segitu banyaknya sekarang. Badanku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, begitupun juga dengan mataku. Tanpa tersadar, tubuhku yang sudah tidak mampu berdiri ini terlentang di atas ranjang yang empuk itu. Aku tertidur sampai sore hari.

Setelah bangun tidur, ternyata matahari belum terbenam. dan aku lebih memilih untuk jalan - jalan mengelilingi komplek perumahanku, dari pada harus menata baju - baju yang berceceran di lantai.

Komplek perum. ini masih terasa asing bagiku, mulai dari orang - orangnya, rumah - rumah, dan gangnya pun masih sangat tidak aku mengerti. Namun, untungnya aku masih ingat jalan untuk menuju rumahku, jadi tidak usah khawatir kalau aku nantinya akan kesasar dan nggak bisa pulang.

Jalan demi jalan, rumah demi rumah telah aku telusuri, tapi aneh sekali... perumahan sebesar ini, serasa seperti melewati kuburan. Bukan masalah seramnya.. tapi,,, sepinya minta ampun. Dari tadi, tidak ada satu orang pun yang aku temui, semua pintu rumah bahkan tidak ada yang terbuka. Aneh sekali bukan...??

Tapi aku tidak mau dibilang orang bodoh,, ini kan perumahan elite, jadi yang tinggal di sini pasti para pegawai yang tinggal di kantoran. Dan kalau jam segini pasti mereka belum pulang, jadi ya pasti sepi begini.. serasa tidak punya tetangga. Beda banget ya sama di Bengangon. Sore - sore begini biasanya aku lagi main petak umpet sama temen - temenku. Tapi... kalau di sini? aku main sama siapa dong?
Aku merenung..... duduk di sebuah bangku di depan sebuah rumah.

"Hey..... Kamu siapa?"

Aku terkejut mendengar seseorang memanggilku. Mataku bersinar ketika mendengar ada suara anak - anak. Dan ternyata,,, ada anak yang sebaya denganku juga rupanya. Tapi sayang.. dia laki - laki. Mataku kembali meredup.
Tapi,,, hemmm apa salahnya kalau dia laki - laki? Asalkan dia baik,, mungkin bisa jadi temen baikku :)
Anak itu mendekatiku.

"Kamu siapa? Pendatang baru ya?"

"He.em" jawabku singkat tanpa berkata panjang lebar.

"Pindahan dari mana?"

"Dari Semarang"

"Oooohh... kenalin namaku Indra, nama kamu siapa?"

"Emh... namaku Azwa, boleh panggil aku Azwa, atau Wawa "

"Okey,,, boleh aku panggil kambing nggak?"

"Icch.. jangan dong.. haha "

Canda kita berdua... Walaupun kita baru kenal, tapi kita sudah kayak bersahabat bertahun - tahun. padahal baru kenal. Indra menurutku adalah sosok orang yang sangat beda di mataku, selain baik, dia juga manis, tampan, apalagi di tambah gigi- giginya yang dikawat hitam itu. Uhhh... dia itu bagai pangeranku . :)

Tidak terasa, waktu sudah semakin sore... dan aku harus segera pulang sebelum hari mulai gelap. Hembusan angin yang bertiup, serasa semakin menyejukkan hatiku dan mengiringi setiap langkahku. Langkah untuk kembali menuju istana baruku. Istana yang berdiri megah di Kota Metropolitan. :)

My Life Story Part I


KOTA METROPOLITAN
A. Good Bye Bengangon

Pagi itu adalah hari di mana aku dan keluargaku harus meninggalkan kampung halamanku. Yah, Kampung Bengangon, kampung yang dipenuhi oleh penduduk yang mayoritas bermatapencaharian sebagai petani dan peternak.  Terletak di Kabupaten Semarang. Aku dan keluargaku harus pindah ke Jakarta yang letaknya sangat jauh dari kampung Bengangon. Aku harus pindah karena ayahku mendapat tugas kerja di sana, jadi , aku dan keluargaku harus ikut pindah ke sana pula. Itu berarti, aku harus meninggalkan tanah kelahiranku, meninggalkan rumahku, meninggalkan kamar tercintaku, meninggalkan sekolahku dan yang pasti adalah meninggalkan sahabat – sahabatku. Sedih rasanya kalau harus meninggalkan itu semua. Sahabat yang sejak kecil aku kenal , kini harus aku tinggalkan begitu saja.

Namaku Zahira Azwa Ramadhana, tapi orang – orang biasa memanggilku Azwa. Menurutku nama yang diberikan oleh ayah dan ibuku adalah nama yang sangat bagus. Ya,,, itu dia, Azwa… Azizah dan Wahyu. Azizah adalah nama ibuku, dan Wahyu adalah nama ayahku. Aku tinggal di sebuah kampung yang bernama kampung Bengangon. Dan hari ini juga aku harus meninggalkan kampung tercintaku ini, meninggalkan sahabat – sahabat Bengangon yang sudah sangat dekat denganku. Tak ingin rasanya aku berpisah dengan mereka, tapi apalah daya , aku harus pindah ke Kota Metropolitan. Kota yang terkenal dengan macet dan banjirnya itu. Kota dimana para manusia mengadu nasib, tempat dimana Pak Presiden menjalankan tugasnya. Entah kenapa aku harus pindah ke kota itu, pernah sekali aku mengunjunginya, itupun tidak genap satu minggu, hanya beberapa hari saja. Tapi, sekarang aku harus tinggal dan menetap di sana? Sungguh tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

“Azwa…!!! Tungguu…!!!” 
terdengar suara teriakan seorang gadis yang memanggil namaku ketika aku hendak masuk ke dalam mobil yang sudah menantiku. Ternyata itu adalah Ani dan Ana , saudara kembar yang tidak lain lagi adalah sahabat – sahabatku. Ani dan Ana memang sudah menjadi temanku sejak kecil, dari TK sampai SMP kelas 8 ini kami selalu satu kelas. Jadi, tidak heran kalau kami kelihatan sangat dekat dan sangat akrab. Bahkan sudah seperti saudara sendiri.

“Azwa, tunggu sebentar kami mau ngomong sama kamu sebentar, sebelum kamu meninggalkan kami…” ucap Ana.

“Iya Sa..” sahut Ani mengiyakan.

“Ana.. Ani… ada apa? Bukankah kalian seharusnya berlibur ke rumah kakek dan nenek kalian?”

“Sebenarnya sih rencana kami pergi ke sana kemarin, tapi setelah kami mendengar bahwa kamu akan pindah ke Jakarta hari ini, jadi kami menyempatkan waktu kami sebentar buat ketemu kamu Wa…” jelas Ana dengan panjang lebar dengan nafas terengah - engah.

“Makasih ya kawan, kalian emang sahabat aku yang paling baik."

“Wa… kalau kamu udah nyampe sana, jangan lupa kabarin kami ya? Dan jangan lupakan kami”

“Pasti dong..!! kita kan sahabat bagai kepompong …”

“Oleh – oleh nya juga ya Wa.. hehe “ canda Ani. Ani memang anak yang lucu. Gaya bicaranya yang lucu itu, membuat orang yang ada di sekelilingnya ikut tertawa.

“Iya .. iya… kapan – kapan aku bawain oleh – oleh kalau aku kembali ke sini…”
Hening seketika.

“Emmmhh.. ya udah deh. Aku pamit yaaa? Doakan aku supaya selamat sampai tujuan.”

“Amiiinnn” ucap Ana dan Ani serempak.

Setelah beberapa menit berbincang – bincang akhirnya tibalah waktuku untuk segera meninggalkan kampung Bengangon. Ayah dan Ibu sudah menungguku di mobil yang sudah siap membawaku ke kota metropolitan itu. Aku pun segera bergegas menuju ke mobil yang sudah menunggu diriku. Lambaian tangan dari kedua sahabatku mengiringi kepergianku. Aku terus memandangi mereka sampai mereka terlihat mengecil , mengecil dan kemudian hilang. Dalam hati, aku berharap hari ini bukanlah terakhir kalinya aku bertemu mereka. Aku berharap, suatu saat nanti aku bisa kembali ke sini dan bisa berkumpul dengan sahabat – sahabatku lagi.

Perjalanan dari Kampung Bengangon ke Jakarta memakan waktu lebih dari 12 jam. Bagiku, duduk diatas kursi mobil selama 12 jam serasa duduk di atas wajan penggorengan. Tak ada pemandangan alam yang aku lihat selama perjalanan, hanya mobil dan gedung – gedung yang aku temui. Bosan rasanya, apabila hanya duduk dan memandangi pemandangan yang hanya membuat mataku perih. Tak ada hiburan, kecuali… HP.

Ku buka resleting tas kecilku yang masih aku sandang dipundak, tas kecil berwarna hitam bertuliskan namaku  dan berlogokan “Kontingen Rembang, JAMDA XIII Karanganyar”. Melihat logo berwarna kuning yang sudah agak pudar itu, aku teringat kembali dengan kegiatan JAMDA waktu kelas 7. Kegiatan dimana aku bisa mendapatkan ribuan teman, membuat aku mandiri, dan membuat aku untuk lebih mencintai pramuka. Baru sebentar aku bernostalgia dan membayangkan kegiatan itu terulang kembali, tiba – tiba HP di dalam tasku bergetar dan menderingkan lagu “Cinta Sejati- BCL”. Ya aku memang suka dengan lagu itu, simple aja sih alasannya kenapa aku suka lagu itu. Sesuai dengan lirik lagunya “Sehingga siapapun insan Tuhan, pasti tahu cinta kita sejati”  . itu yang aku inginkan, aku ingin punya cinta yang sejati, cinta yang penuh sejarah, seperti kisah cinta Pak Habibie dan Bu Ainun :) .

Deringan lagu itu berhenti setelah aku membuka pesan itu, aku berpikir bahwa itu adalah pesan dari kedua sahabatku, dan ternyata setelah aku buka…. Dugaanku ternyata salah, itu bukan dari Ana ataupun Ani, melainkan hanya dari operator.

“Huft… aku kirain dari sahabatku, eh ternyata dari operator. Heran deh, dari kemarin nih operator sms aku mulu… ngefans sama aku ya? Mana dibales nggak bisa lagi. Udah deh, gak usah sms aku lagi, gak tau kalau aku lagi boring apa?” gumamku.

Sudah satu jam lebih aku melototi HPku sampai mataku menciut, tapi tetap saja tak ada satu pesan pun yang masuk. Tak ada deringan lagu BCL lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur, dari pada HP nanti lowbat. HP aku masukkan kembali ke dalam tas, dan aku mencoba untuk tidur. Segala macam bentuk posisi tidur telah aku coba, dari duduk biasa, kaki aku angkat ke atas kursi, sampai membaringkan tubuhku diatas 3 kursi panjang, namun tetap saja mataku tidak bisa menutup. Padahal, mataku sudah sangat lelah dan mengantuk. Setelah sekian lama aku mencoba untuk tidur, akhirnya akupun tertidur lelap sampai malam hari. Setelah makan malam, aku pun melanjutkan perjalanan lagi. Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan. Dan kejadian tadi siang pun terulag kembali. Sampai pukul 23.00 aku belum juga tidur. Tapi aku memaksakan diri untuk tetap tidur, karena kalau tidak, esok harinya  pasti bakalan pusing, kalau nggak ya masuk angin. Ahhh…. Sungguh hal yang sangat tidak aku inginkan. Entah karena apa, tiba – tiba aku sudah tertidur pulas kembali.

Percikkan air, tetes demi tetes jatuh di atas wajahku. Aku kira itu adalah air hujan yang menerobos kaca mobilku, tapi sungguh mustahil kalau air bisa menembus kaca. Aku pun segera bergegas untuk bangun dan melihat apa yang terjadi. Dan ternyata…. Itu adalah percikkan air mineral yang sengaja dijatuhkan ke atas wajahku oleh ibuku. Ahhh…. Ingin marah aku rasanya.

“Ahhh…. Ibu… kenapa harus dipercikki air sih? Aku kira hujan tahu!! Lagi enak – enak mimpi indah kok diganggu…” ucapku dengan wajah sedikit kesal.

“Hehe…. Bangun… kita sudah sampai Jakarta. Nanti kita ke masjid istiqlal dulu untuk sholat shubuh” jelas ibu dengan wajah yang masih berkilau meskipun semalam belum sampai mandi.

Ahh… senang dan bingung rasanya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung membuka gorden kaca mobilku dan melihat pemandangan sepanjang jalan. Dan ternyata apa yang aku bayangkan sebelumnya tidak seperti apa yang aku lihat saat ini, jalan yang bersih, tak ada air yang menggenang, tak ada mobil yang terlantar di jalan. Yang ada hanyalah gedung – gedung pencakar langit yang masih dihiasi oleh lampu – lampu yang bersinar terang penuh warna. Aku pun bertanya – tanya, kenapa kota metropolitan yang dulu bising, sekarang menjadi sunyi?

“Ayah… dulu waktu aku pertama kali ke Jakarta sangat bising sekali, macet dan banjir dimana – mana. Tapi, sekarang kok jadi sepi begini? Aneh kan?”

Ayah hanya tersenyum mendengar pertanyaanku yang konyol itu. Apalagi sambil menatap mukaku yang sudah acak – acakan karena baru bangun tidur. Setelah menatapku, ayah pun mulai membuka mulutnya dan melontarkan kata demi kata untuk menjawab pertanyaanku.

“Azwa…. Jakarta itu masih sama seperti waktu pertama kali kamu ke sini. Tapi, sekarang kamu lihat deh, ini jam berapa? Masih jam 4 kan? Orang – orang masih pada tertidur pulas, belum ada yang berangkat kerja, dan kalaupun ada itu adalah para pedagang yang tidak banyak menggunakan mobil sehingga jalannya tidak macet. Coba nanti lihat ketika hari sudah pagi, pasti kemacetan sudah terjadi dimana – mana, karena para pegawai sudah mulai berangkat kerja ke kantornya. Nah, kalau masalah banjir, ini kan memasuki musim kemarau, jadi curah hujan sangat sedikit.” Jelas ayah panjang lebar.

Aku hanya bisa tersenyum malu sendiri di depan ayah. Mengapa aku tidak sampai berpikir sejauh itu? Ya Tuhan.. apa sih yang ada di pikiranku sekarang? Apa gara – gara terlalu banyak tidur? Sampai – sampai aku tidak bisa berpikir secara logika tentang hal yang konyol itu. Ahhh sudahlah, abaikan saja.

Akhirnya, tepat pukul 04.30 aku sampai di masjid Istiqlal. Setelah sholat subuh, tubuhku serasa fresh kembali, pikiran yang sempat hilang melayang entah kemana kini sudah kembali memenuhi otakku lagi dan membuat diriku menjadi diriku seutuhnya kembali, dn semua masalah – masalah yang ada di pikiranku serasa telah dibuang jauh – jauh dariku dan tak akan mungkin bisa kembali lagi. Sungguh membuat hatiku benar – benar serasa jernih kembali, terima kasih Tuhan… aku percaya Engkau selalu bersamaku, maka lindungilah aku selama aku di Kota Metropolitan ini.
Setelah usai sholat subuh, aku segera menuju ke mobil dan melanjutkan perjalananku kembali. Kini, aku sudah tidak merasa  bosan lagi untuk duduk di kursi yang empuk, meskipun tidak selembut kasur tidurku di Bengangon. Tapi, perasaan bosan yang dari kemarin aku rasakan ketika duduk di kursi ini pun hilang, dan tiba – tiba berubah seakan – akan aku sedang duduk di atas kursi seorang putri yang sedang menikmati keindahan istananya. Betapa bahagianya putri itu.
Untuk menuju ke rumah baruku, membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Aku kurang begitu tahu dimana nanti aku akan tinggal. Aku membayangkan kalau rumahku itu tidak akan mungkin seperti rumahku di Bengangon. Rumah yang dikelilingi oleh pohon melinjo, dan dihiasi harumnya bunga mawar dan melati khas Bengangon. Mungkin, rumah yang akan aku tempati adalah rumah yang hanya dipenuhi oleh pohon cemara yang tandus, bahkan mungkin bunga atau pohon dari plastik. Sungguh… aku tak bisa membayangkan, apakah aku akan betah tinggal di rumah yang tidak beroksigen itu? Tiba – tiba mataku yang tadi bersinar, kini kembali meredup setelah membayangkan rumah baruku tadi. Tapi itu hanya bayanganku bukan? Itu belum nyata. Jadi positif thinking aja deh. :)

Akhirnya, aku pun tiba di rumah baruku. Di Perum. Sapta Nawa, Jl. Soekarno, No. 22, Jaktim. Itulah alamat baruku, sangat asing bagiku. Tapi, apa boleh buat? itulah rumahku sekarang. Dan setelah turun dari mobil, aku pun terkejut melihat rumah baruku. Sungguh… aku tak tahu lagi harus berkata apa. Ayah dan Ibu benar – benar pandai member kejutan buat aku. Rumah yang indah, melebihi indahnya rumahku dulu di Bengangon. Sungguh asri dan sejuk, sekelilingnya dipenuhi taman bunga dan pohon – pohon yang tumbuh subur. Ini adalah istana bagiku. Sungguh… aku tak tahu bagaimana caranya mengungkapkan isi hatiku ini kepada ayah. Mata yang semula redup, kini kembali bersinar terang, bahkan melebihi sinar bintang di malam hari. Beribu – ribu terima kasih aku ucapkan kepada ayah dan ibuku, yang selalu mengerti dan memahami keinginanku.

“Wa,,, ayah dan ibu tahu, kalau kamu sangat berat sekali melepaskan Bengangon. Oleh karena itu, ayah nggak ingin melihat kamu sedih lagi. Dengan rumah baru ini, ayah tahu apa yang kamu inginkan. Rumah baru ini, akan selalu mengingatkan kamu dengan Bengangon. Semoga kamu betah ya?” jelas ayah.

“Makasiih ayah :) “

Kaki kanan aku pijakkan ke depan pintu pagar rumah, sebelumnya aku terlebih dahulu mengucapkan do’a. Agar Tuhan memberkatiku untuk tinggal di sini. Pintu pagar mulai aku buka dengan sangat hati – hati. Suara halus terdengar dari gesekan roda pintu pagar. Aku, ayah, dan ibu segera memasuki rumah baruku. Harum bunga melati sudah tercium ketika aku akan memasuki pintu utama. Suara berdecit terdengar dari gesekan antara pintu dengan lantai, seperti baru saja selesai dipel. (Bersambung......)

*Nantikan lanjutan ceritanya :)

Asal usul Desa Dresen

Nah.. ini salah satu cerita legenda buatan saya :)
Don't forget to leave a comment yah sob :)


ASAL USUL DESA DRESEN

       Pada zaman dahulu, ada sepasang kakak adik. Namanya Kopo dan Kenthiri. Warga desa sering menyebutnya Maling Kopo dan Maling Kenthiri. Karena pekerjaan mereka sehari-hari adalah maling. Meskipun mereka saudara kandung, tapi mereka memiliki sifat yang sangat berbeda. Si kakak, yaitu Maling Kopo memiliki sifat yang dermawan, meskipun dia memiliki hasil curian yang sangat banyak, tapi dia tidak egois, artinya dia tidak menggunakan hasil curiannya itu untuk dirinya sendiri, melainkan disumbangkan kepada tetangganya yang kurang mampu dan membagi hasilnya dengan adiknya. 

Tapi, lain dengan adiknya, yaitu Maling Kenthiri, ia sama sekali tidak mau membagi hasil curiannya dengan orang lain, dengan kakaknyapun dia tidak mau berbagi. Tapi, bagaimanapun kedua maling tersebut sama-sama tidak memiliki sifat yang terpuji, karena mereka sama-sama maling. Mereka adalah maling yang boleh dibilang maling kelas kakap.  Karena, meskipun mereka sering tertangkap, mereka tidak pernah kapok dengan hal yang dilakukannya. Hingga pada suatu hari, ketika mereka berdua sedang maling di sebuah rumah saudagar yang kaya raya, mereka melihat seorang gadis yang sangat cantik yang sedang tidur. Akhirnya, mereka mempunyai niat untuk menculik gadis itu. Tapi, mereka malah ketahuan oleh keluarga tersebut, hingga mereka dikejar-kejar oleh warga di desa tersebut. Tapi, tetap saja warga tidak bisa menangkap kedua maling itu, karena Maling Kopo dan Kenthiri larinya sangat kencang, layaknya kereta express. Hingga kedua maling tersebut merasa sangat lelah dan haus. Ketika mereka sedang berusaha mencari air , mereka menemui seorang pria tua yang sedang menyadap legen. Mereka menyebutnya nderes legen. Nama penyadap legen tersebut adalah Pak Rahmat. Mereka meminta legen kepada Pak Rahmat, dan mereka berjanji akan membayarnya berapapun harganya. Karena mereka merasa memiliki uang dan harta yang banyak, setelah merampok rumah saudagar kaya raya tadi. Dan Pak Rahmatpun percaya akan omongan kedua pemuda tersebut, karena Pak Rahmat tidak tahu kalau kedua pemuda tersebut adalah maling. 10 bumbung legen telah mereka habiskan. Pak Rahmat hanya bisa melongo dan kagum dengan kedua pemuda tersebut. 

Ketika pemuda tersebut telah selesai minum legen, Pak Rahmatpun menagih uang mereka. Tapi, ketika mereka akan membayar legen tersebut, tiba-tiba Kopo dan Kenthiri kaget. Karena ternyata, uang hasil rampokan mereka tadi tidak ada. Mungkin uang mereka jatuh ketika sedang dikejar warga. Akhirnya Pak Rahmatpun marah kepada mereka. Karena untuk membuat satu bumbung legen saja, butuh waktu 3 hari 3 malam. Dan harganya pun juga mahal. Tapi, maling Kopo dan Kenthiri tetap tidak mau membayar. Akhirnya terjadilah pertengkaran antara Maling Kopo dan Kenthiri dengan Pak Rahmat. Tapi, Maling Kopo dan Kenthiri tidak bisa menahan emosi mereka. Dan karena mereka sakti, maka dengan mudahnya mereka bisa membunuh Pak Rahmat. Ketika mereka membunuh Pak Rahmat, disaksikan oleh semua warga yang tadinya mengejar Maling Kopo dan Kenthiri. Warga semakin marah karena kedua maling tersebut telah membunuh tetangga mereka, seseorang yang dianggap paling sepuh di desa itu. Lalu, ketika kedua maling itu melihat bahwa warga semakin marah, maka mereka kemudian lari dan meninggalkan desa tersebut. Tapi, sebelum lari , mereka sempat berpesan “ Apabila memang orang yang aku bunuh ini sangat terhormat bagi kalian, maka untuk mengenangnya , jika suatu saat desa ini menjadi ramai dan padat penduduknya, maka akan aku beri nama DRESEN, dari kata nderes dan legen. Karena orang yang aku bunuh ini pekerjaannya nderes legen”. Setelah menyampaikan pesan tersebut, kedua maling tersebut akhirnya pergi dan lari sangat kencang sekali, sampai-sampai warga tidak bisa melihat mereka dalam sekejap. 

Akhirnya lama-kelamaan desa tersebut menjadi ramai dan padat penduduknya. Dan mereka memberi nama desa tersebut, Desa DRESEN. Yaitu, dari kata “nderes” atau menyadap dan “legen”. Karena mayoritas penduduk desa itu bekerja sebagai penyadap legen. Dan sampai sekarang desa tersebut dinamakan desa Dresen, terletak di dekat Desa Tasikharjo, Kec. Kaliori, Kab. Rembang.

Drama Bahasa Jawa


Tema   : Budi Pekerti
Paraga  :
a.       Bu Wawa        : Nur Azizah
b.      Nini                 : Alda Sabilatul K.A
c.       Nanang            : M. Khoirul Umam
d.      Purwo              : Aditya Ilham Prastika
e.       Mbah Teguh    : Adam Rahardi

BABAK I
              Nini, Nanang, lan Purwo punika siswa – siswi ingkang sekolah ing SMP N 1 Sukamundur. Ing sawijining dina, nalika pelajaran Bahasa Jawa, Bu Wawa, inggih punika Guru Bahasa Jawa ing sekolah punika, nerangake Bab tentang Budi Pekerti.

Bu Wawa      : “Sugeng Enjang, murid – murid?”
Murid–murid : “Sugeng Enjang Bu…..”
Bu Wawa      : “Kepriye kabare dina iki?”
Murid-murid : “Sae Bu…”
Bu Wawa      : “Alhamdu..???”
Murid-murid : “Lillah…”
Bu Wawa      : “Sek gak mlebu dina iki sopo?”
Murid-murid : “Paijo Bu…”
Bu Wawa      : “Loh loh.. Minggu wingi Paijo yo ora mlebu. Lha dina iki kok gak mlebu maneh lapo toh
                          cah?”
Nini               : “Ngiwangi macul bapake ing sawah paling Bu…”
Nanang         : “Heh, ngawur bae sampean iku! Nak ngomong mbok yo dijogo, ngomong mbi guru kok
                          gak ana sopan santune blas!”
Nini               : “Yo iyo … Nganti wes apal aku. Saben dina kok ngomong ngunu terus”
Purwo           : “Wes meneng! Niku Bu,, mripate Paijo sakit”
Nini               : “Waah… Paling senengane ngincengi wong iku… Hahaha”
Nanang         : “Heh.. sampean iku iso meneng opo ora leh? Jojohi sepatu malah!”
Nini               : “Gage leh.. Nyoh nyoh nak ameh mbok jojohi!!”
Purwo           : “Wes Wes.. ribut bae sampean – sampean kuwi!”
Bu Wawa      : “Sampun – sampun… Nini, ga entuk ngomong ngunu. Paijo kan kancamu dhewe toh?
                          Yen mengkono, enggal ditiliki bareng bareng nggih?
Murid-murid : “Enggih Bu….”
Bu Wawa      : “Nggih sampun. Saiki coba buka kaca 298 buku paket, Bab Budi Pekerti”
Nini               : “Eh iyo… aku lali ga nggowo buku paket”
Nanang         : “Halah… sampean iku yo oga lali. Tapi wes langganan! Aja silehi ben ngowoh lah”
Nini               : “Ora mbok silehi dak wes. Opo iyo tak pikir? Pelit sampean iku! Muleh sekolah tak kon
                          digondol langit!”
Purwo           : “Wes wes… Mrene Ni, ambi aku wae”
Nini               : “Ngunuku koyok Purwo, wes nggantheng.. apikan nyisan”
Murid-murid : “Ciyeeeeeee”
Bu Wawa      : “Sampun- sampun .. kok malah ora sido pelajaran iki mengko. Waktune namung 5 menit
                          kok.e malah mbuk nggo rebut dhewe. Bab ingkang kita pelajari dina iki yakuwi Bab
                          Budi Pekerti. Apa kuwi Budi Pekerti?”
Nini               : “Budi sing pekerti Bu…”
Nanang         : “Ngawur huuuu”
Bu Wawa      : “Sampun – sampun… Budi Pekerti yakuwi berarti moral lan kelakuan utawi tingkah laku
                          ingkang bagus nalika urip ing alam donya iki. Tuladhane, kayata bocah kang kudu
                          nduweni sopan santun lan tata krama kang bagus marang sapa bae. Ingkang utama
                          yakuwi marang bapak lan ibu, marang bapak ibu guru, lan marang sapa wae kang luwih
                          sepuh. Kita wajib hormat lan ngajeni meskipun marang wong kang durung dikenali.
                          Paham murid – murid?”
Murid-murid : “Enggih bu…”
Nanang         : “Nyoh… rungokke Ni… apa ingkang dipundhawuhi Bu Wawa”
Nini               : “Masamu aku gak nduwe kuping piye?”
Bu Wawa      : “Enggih sampun… yen ngunu cekap semanten kalawau pelajaran ingkang kita bahas ing
                          dina iki. Coba kanggo PR garapen kaca 313, Sugeng Enjang…”
Murid-murid : “Sugeng Enjang bu…”

BABAK II
              Ora krasa, wektu wes nuduhake jam 12.30, kaya biasa Nini, Nanang, lan Purwo muleh sekolah bareng – bareng. Amarga, omahe cedhakan. Nalika ing dalan, Nini, Nanang, lan Purwo ketemu simbah ingkang nembe nyeberang. Simbah ingkang nembe nyeberang kuwi katon sepuh lan lemes banget.

Purwo           : “Eh eh .. coba delengen kae. Ana mbah mbah ing pinggir dalan. Parani yok?”
Nini               : “Heh…! Aja… sampean nak diculik”
Nanang         : “Diculik sek tak kekno ndisik ya sampean Ni”
Purwo           : “Wes wes… lawong kayake arep nyeberang kok. Ayo parani”
(Nini, Nanang, lan Purwo marani simbah mau)
Nini               : “Heh mbah tuwo. Kowe lagi lapo iku?”
Purwo           : “Husss… omonganmu kuwi lho dijaga. Mau kan lagi bae didhawuhi Bu Wawa, mosok
                          wes lali?”
Nanang         : “Ora nduwe kuping paling”
Purwo           : “Mbah, panjenengan nembe nopo?”
Nini               : “Lagi ngadek ngunu kok.e mbuk takoki leh?”
Mbah Teguh  : “Arep nyeberang le… arep nggolek maem. Sampun seminggu aku durung maem le…”
Purwo           : “Asmane panjenengan sinten mbah?”
Mbah Teguh  : “Teguh le…”
Nini               : “Wonge kok ora sebagus jenenge?”
Nanang         : “Huss… Wah saake bener mbah iki Pur… ayo urunan Pur”
Nini               : “Emoh aku.. ora ana gara – gara atek nguruni wong ora jelas iki. Emange iku mbahem
                          piye kok mbok openi? Kenal ae ora kok.e … Moh urunan aku. Paling ndara mbodoni
                          leh, seminggu ora mangan kok ijeh urip”
Mbah Teguh  : “Heh nduk.. kowe iku anak.e sapa? Ngomong kok ora iso dijogo. Kualat kowe nduk”
Nini               : “Kualat elah. Aku ora wedi. Minggir minggir mbah tuwo”
(Nini lunga ninggalke Nanang, Simbah, lan Mbah Teguh tanpa sopan santun)
Purwo           : “Mbah kula nyuwun pangapunten nggih mbah kaliyan sifate Nini kalawau. Niki kula
                          kagungan arta sekedik kangge tumbas maem mbah”
Mbah Teguh  : “Matursuwun nggih dik. Tulung kandhani kancamu mau nggih? Dadi bocah mbok yo sek
                          nduwe sopan santun”
Nanang         : “Yen ngoten kula pamit nggih mbah, sampun sonten. Assalamu’alaikum”
Mbah Teguh  : “Wa’alaikumsallam”
(Nanang lan Purwo banjur bali)

              Nalika Nanang lan Purwo perjalanan bali, ujug-ujug krungu suara ingkang banter banget. Nanang lan Purwo banjur nggoleki asal suara kuwi mau. Jebul, kuwi suara motor ketibo. Banjur, Nanang lan Purwo mara ing lokasi kecelakaan kuwi. Nanang lan Purwo kaget, jebulane Nini dadi salah siji korban ing kecelakaan kuwi. Nini keserempet motor kuwi lan tibo ing njero got. Dheweke rusoh kabeh lan sikile getehen.

Purwo           : “Ya Allah Nini…. Ayo padha ing puskesmas saiki”
Nanang         : “Iyo.. ayo Ni… tak gendhong aku lan Purwo”
Nini               : “Huhuhuhuhuhuhuhu….”
(Nini nangis amarga sikile lara. Banjur, Nanang lan Purwo enggal nggawa Nini mara puskesmas. )

BABAK III
              Wus 5 dina Nini ora mlebu sekolah amarga sikile iseh lara. Banjur, kanca- kanca sakelase lan padha niliki ing omahe. Bu Wawa lan Mbah Teguh uga melu niliki. Amarga, Bu Wawa ngerti yen Nini kecelakaan amarga kualat kaliyan mbah Teguh.
Murid-Murid : “Assalamu’alaikum”
Nini               : “Wa’alaikum sallam. Eh kanca – kanca lan Bu Wawa… ayo mlebu”
Bu Wawa      : “Piye kahananmu Ni?”
Nini               : “Alhamdulillah sampun mendingan Bu”
Bu Wawa      : “Ni… saka peristiwa iki, awakmu kudu isa ngrubah sikapmu. Ngerti toh apa sek tak
                          karepake?”
Nini               : “Enggih Bu…”
Bu Wawa      : “Nah, mumpung ing kene ana Mbah Teguh. Enggala nyuwun pangapura marang Mbah
                          Teguh. Supaya, awakmu cepet mari.”
Nini               : “Enggih Bu… Mbah Teguh, kula nyuwun pangapunten nggih…. Amargi kula sampun
                          kurang ajar kaliyan panjenengan. Kula janji mboten mbaleni sikap kula malih”
Mbah Teguh  : “Iyo nduk… mbah nggih nyuwun pangapunten. Amarga mbah wus nyumpahke awakmu.
                          Nanging, aja dibaleni maneh nggih… dadi bocah kuwi kudu sek sopan. Aja semena –
                          mena, apa meneh karo wong kang luwih sepuh. Aja mbaleni maneh nggih?”
Nini               : “Enggih Mbah…”
Nanang         : “Wah Nini cepet banget warase yo? Hehe…”
Purwo           : “Husss.. kancane dadi apik ga Alhamdulillah kok.e malah ngomong ngunu piye toh
                          sampean kuwi?”
Bu Wawa      : “Nah… bocah – bocah saka peristiwa iki, akeh pelajaran kang isa mbuk jipuk toh? Bilih
                          budi pekerti, sopan santun, lan tata krama kuwi penting banget. Mula iku, dadea bocah
                          kang nduweni Budi pekerti kang luhur. Paham?”
Murid-murid : “Paham Bu…”

              Akhire, Nini sadar bilih  dheweke selama iki kuwi salah lan dheweke janji bakal ngrubah sikape supaya dadi bocah ingkang nduweni tata krama lan sopan santun ingkang luhur.
              Nah, saking cerita ing dhuwur, kita sebagai murid – murid kudu nduweni budi pekerti kang luhur marang sapa bae, kang utama yakuwi marang wong kang luwih sepuh.

JMATUR NUWUNJ



 *itu tadi drama bahasa jawa buatan saya :D minta koment.nya iya? 
maaph kalo jeleg :p