Sabtu, 24 Agustus 2013

My Life Story Part II


B. Rumah Baru

Dengan mengucap basmallah aku melangkahkan kakiku untuk memasuki rumah baruku, berharap aku bisa betah untuk tinggal di sana dan mudah untuk beradaptasi dengan orang - orang yang masih asing bagiku. Ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan ruang - ruang lainnya menurutku tidak ada yang spesial. Semua itu memiliki suasana yang sama dengan rumahku di Bengangon. Yang membedakan adalah kamar tidurku. Ya jelas beda dong dengan yang ada di Bengangon, secara gitu kamarku yang ada di Bengangon telah memiliki sejuta kenangan, terutama dengan sahabat - sahabatku Ana dan Ani. Bicara tentang Ana dan Ani, aku kok jadi kangen mereka ya? kenapa mereka nggak sms aku? masak baru sehari aja aku pergi mereka udah lupa sama aku? ah mungkin mereka sedang sibuk atau nggak punya pulsa kali. Positif thinking aja deh :)
Ku letakkan koper dan tasku di atas ranjang tidurku, segera aku ambil peralatan mandiku. Badanku serasa lengket bak penuh lem yang merekat di seluruh tubuhku.

Selesai mandi, aku segera menata seluruh bajuku. Lelah rasanya jika aku harus menata baju yang segitu banyaknya sekarang. Badanku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, begitupun juga dengan mataku. Tanpa tersadar, tubuhku yang sudah tidak mampu berdiri ini terlentang di atas ranjang yang empuk itu. Aku tertidur sampai sore hari.

Setelah bangun tidur, ternyata matahari belum terbenam. dan aku lebih memilih untuk jalan - jalan mengelilingi komplek perumahanku, dari pada harus menata baju - baju yang berceceran di lantai.

Komplek perum. ini masih terasa asing bagiku, mulai dari orang - orangnya, rumah - rumah, dan gangnya pun masih sangat tidak aku mengerti. Namun, untungnya aku masih ingat jalan untuk menuju rumahku, jadi tidak usah khawatir kalau aku nantinya akan kesasar dan nggak bisa pulang.

Jalan demi jalan, rumah demi rumah telah aku telusuri, tapi aneh sekali... perumahan sebesar ini, serasa seperti melewati kuburan. Bukan masalah seramnya.. tapi,,, sepinya minta ampun. Dari tadi, tidak ada satu orang pun yang aku temui, semua pintu rumah bahkan tidak ada yang terbuka. Aneh sekali bukan...??

Tapi aku tidak mau dibilang orang bodoh,, ini kan perumahan elite, jadi yang tinggal di sini pasti para pegawai yang tinggal di kantoran. Dan kalau jam segini pasti mereka belum pulang, jadi ya pasti sepi begini.. serasa tidak punya tetangga. Beda banget ya sama di Bengangon. Sore - sore begini biasanya aku lagi main petak umpet sama temen - temenku. Tapi... kalau di sini? aku main sama siapa dong?
Aku merenung..... duduk di sebuah bangku di depan sebuah rumah.

"Hey..... Kamu siapa?"

Aku terkejut mendengar seseorang memanggilku. Mataku bersinar ketika mendengar ada suara anak - anak. Dan ternyata,,, ada anak yang sebaya denganku juga rupanya. Tapi sayang.. dia laki - laki. Mataku kembali meredup.
Tapi,,, hemmm apa salahnya kalau dia laki - laki? Asalkan dia baik,, mungkin bisa jadi temen baikku :)
Anak itu mendekatiku.

"Kamu siapa? Pendatang baru ya?"

"He.em" jawabku singkat tanpa berkata panjang lebar.

"Pindahan dari mana?"

"Dari Semarang"

"Oooohh... kenalin namaku Indra, nama kamu siapa?"

"Emh... namaku Azwa, boleh panggil aku Azwa, atau Wawa "

"Okey,,, boleh aku panggil kambing nggak?"

"Icch.. jangan dong.. haha "

Canda kita berdua... Walaupun kita baru kenal, tapi kita sudah kayak bersahabat bertahun - tahun. padahal baru kenal. Indra menurutku adalah sosok orang yang sangat beda di mataku, selain baik, dia juga manis, tampan, apalagi di tambah gigi- giginya yang dikawat hitam itu. Uhhh... dia itu bagai pangeranku . :)

Tidak terasa, waktu sudah semakin sore... dan aku harus segera pulang sebelum hari mulai gelap. Hembusan angin yang bertiup, serasa semakin menyejukkan hatiku dan mengiringi setiap langkahku. Langkah untuk kembali menuju istana baruku. Istana yang berdiri megah di Kota Metropolitan. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar