B. Rumah Baru
Dengan mengucap basmallah aku melangkahkan kakiku untuk memasuki
rumah baruku, berharap aku bisa betah untuk tinggal di sana dan mudah untuk
beradaptasi dengan orang - orang yang masih asing bagiku. Ruang tamu, ruang
keluarga, dapur, dan ruang - ruang lainnya menurutku tidak ada yang spesial.
Semua itu memiliki suasana yang sama dengan rumahku di Bengangon. Yang
membedakan adalah kamar tidurku. Ya jelas beda dong dengan yang ada di
Bengangon, secara gitu kamarku yang ada di Bengangon telah memiliki sejuta
kenangan, terutama dengan sahabat - sahabatku Ana dan Ani. Bicara tentang Ana
dan Ani, aku kok jadi kangen mereka ya? kenapa mereka nggak sms aku? masak baru
sehari aja aku pergi mereka udah lupa sama aku? ah mungkin mereka sedang sibuk
atau nggak punya pulsa kali. Positif thinking aja deh :)
Ku letakkan koper dan tasku di atas ranjang tidurku, segera aku
ambil peralatan mandiku. Badanku serasa lengket bak penuh lem yang merekat di
seluruh tubuhku.
Selesai mandi, aku segera menata seluruh bajuku. Lelah rasanya
jika aku harus menata baju yang segitu banyaknya sekarang. Badanku sudah tidak
bisa diajak kompromi lagi, begitupun juga dengan mataku. Tanpa tersadar,
tubuhku yang sudah tidak mampu berdiri ini terlentang di atas ranjang yang
empuk itu. Aku tertidur sampai sore hari.
Setelah bangun tidur, ternyata matahari belum terbenam. dan aku
lebih memilih untuk jalan - jalan mengelilingi komplek perumahanku, dari pada
harus menata baju - baju yang berceceran di lantai.
Komplek perum. ini masih terasa asing bagiku, mulai dari orang -
orangnya, rumah - rumah, dan gangnya pun masih sangat tidak aku mengerti.
Namun, untungnya aku masih ingat jalan untuk menuju rumahku, jadi tidak usah
khawatir kalau aku nantinya akan kesasar dan nggak bisa pulang.
Jalan demi jalan, rumah demi rumah telah aku telusuri, tapi aneh
sekali... perumahan sebesar ini, serasa seperti melewati kuburan. Bukan masalah
seramnya.. tapi,,, sepinya minta ampun. Dari tadi, tidak ada satu orang pun
yang aku temui, semua pintu rumah bahkan tidak ada yang terbuka. Aneh sekali
bukan...??
Tapi aku tidak mau dibilang orang bodoh,, ini kan perumahan elite,
jadi yang tinggal di sini pasti para pegawai yang tinggal di kantoran. Dan
kalau jam segini pasti mereka belum pulang, jadi ya pasti sepi begini.. serasa
tidak punya tetangga. Beda banget ya sama di Bengangon. Sore - sore begini biasanya
aku lagi main petak umpet sama temen - temenku. Tapi... kalau di sini? aku main
sama siapa dong?
Aku merenung..... duduk di sebuah bangku di depan sebuah rumah.
"Hey..... Kamu siapa?"
Aku terkejut mendengar seseorang memanggilku. Mataku bersinar ketika
mendengar ada suara anak - anak. Dan ternyata,,, ada anak yang sebaya denganku
juga rupanya. Tapi sayang.. dia laki - laki. Mataku kembali meredup.
Tapi,,, hemmm apa salahnya kalau dia laki - laki? Asalkan dia
baik,, mungkin bisa jadi temen baikku :)
Anak itu mendekatiku.
"Kamu siapa? Pendatang baru ya?"
"He.em" jawabku singkat tanpa berkata panjang lebar.
"Pindahan dari mana?"
"Dari Semarang"
"Oooohh... kenalin namaku Indra, nama kamu siapa?"
"Emh... namaku Azwa, boleh panggil aku Azwa, atau Wawa "
"Okey,,, boleh aku panggil kambing nggak?"
"Icch.. jangan dong.. haha "
Canda kita berdua... Walaupun kita baru kenal, tapi kita sudah
kayak bersahabat bertahun - tahun. padahal baru kenal. Indra menurutku adalah
sosok orang yang sangat beda di mataku, selain baik, dia juga manis, tampan,
apalagi di tambah gigi- giginya yang dikawat hitam itu. Uhhh... dia itu bagai
pangeranku . :)
Tidak terasa, waktu sudah semakin sore... dan aku harus segera
pulang sebelum hari mulai gelap. Hembusan angin yang bertiup, serasa semakin
menyejukkan hatiku dan mengiringi setiap langkahku. Langkah untuk kembali
menuju istana baruku. Istana yang berdiri megah di Kota Metropolitan. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar